Hanifah Ahmad
Abstract
Since the open-door reform policy initiated by Deng Xiaoping in the 1970s, China has entered itself to an andvanced agenda. Long has been wanted that the Chinese Yuan to be as popular as the US Dollar. The title of Global Reserve Currency is a title that is handed down in history by default. It has been ruled by the Greeks, the Romans, the Dutch, the British and recently the Americans. China is ready to take the leap. It has been engaging more globally than ever, concluding itself in numerous currency swap arrangements to act as a ‘public relations’ to boost up Yuan’s popularity. This paper wishes to know more about the Yuan so that it will lead to another question, even if China is ready to take the legacy after the US, does the world need its tight currency? In other words, what good will it bring amongst the doubt? This paper finishes itself with a reflection regarding future role of Yuan. Will China ever be as those who has ruled the system before and why?
Keywords: China, Yuan, international monetary system, currency swap, global currency reserve
Dalam tradisi Keynesian, sistem moneter internasional yang ideal adalah sistem yang dapat memastikan kestabilan mata uang internasional dengan fleksibilitas kebijakan domestik. (Gilpin, 2001). Dilema dari sistem moneter internasional disini adalah untuk menjaga keuntungan dari kestabilan mata uang lokal dalam sistem terhadap standar internasional dan untuk menjaga dalam waktu yang sama, otonomi lokal yang memadai terhadap tingkat bunga domestik dan volume pinjaman luar negeri. Setelah runtuhnya sistem tukar tetap pada tahun 1970-an, ekonomi global melesat jauh dari konsepsi ideal sistem moneter Keynesian. Sistem yang ada saat ini lebih tepat disebut sebagai non-sistem karena yang ada hanyalah ‘reference range’ dari sistem tukar mengambang dimana hubungan moneter internasional tidak diatur atau diregulasi oleh pemahaman tentang faktor-faktor seperti penciptaan likuiditas atau penyesuaian rate. Sistem tukar mengambang yang ada saat ini bukan berarti membuat sistem moneter menjadi mundur. Namun, hal tersebut menunjukkan kemenangan kapitalisme global yang opresif, seperti yang dituliskan kaum hyperglobalizers.
Hyperglobalizer, atau kadang disebut sebagai ‘pemuja’ globalisasi adalah salah satu dari tiga pandangan ilmiah yang berkembang dewasa ini melihat fenomena globalisasi. Sistem moneter yang semakin terintegrasi meskipun ada banyak argumen tentang semestinya sistem ini diregulasi secara ketat, memberi contoh bagaimana dunia saat ini telah digerakkan oleh kekuatan pasar. Fenomena ini dilihat sebagai efek kontemporer dari globalisasi dimana iklim kompetisi semakin kuat sehingga negara-negara berlomba-lomba untuk semakin meningkatkan posisi tawarnya dan mengintegrasikan dirinya dalam perekonomian global. Hyperglobalizers seperti Ohmae, dalam bukunya melihat bahwa, globalisasi kontemporer ini dilihat sebagai kemenangan kapitalisme global yang opresif, karena sifat alamiah globalisasi yang adalah sebuah fenomena ekonomi, bukan kultur, bukan identitas, bukan pula solidaritas. Sehingga peran negara menjadi sebatas manajer dari proses ekonomi. Politik dianggap sebagai praktek dari manajemen ekonomi nasional yang efisien. Keadaan pragmatisme seperti itu secara naluriah membuat negara-bangsa yang harus bertahan sehingga mau tidak mau harus mengikuti disiplin skenario ekonomi liberal. (Strange, 1996, p.4; Reich, 1991)
Relasi yang dimunculkan dari negara dan globalisasi ialah berbanding terbalik. Apabila globalisasi menguat, maka negara melemah, begitu pula sebaliknya. Negara yang kita lihat disini adalah negara sebagai perangkat sistem politik, institusi dan penegakan hukum, yang apabila melemah dalam keadaan terparahnya menjadi versi ‘negara sebagai manajer ekonomi’ dimana nilai, ide dan etika tidak diindahkan asalkan mendapat gain yang tinggi dan posisi tawar yang semakin meningkat (Ohmae, 1995, p.5). Oleh karena itu, pemerintah harus dapat mengantisipasi konsekuensi dari globalisasi ini, karena apabila peran pemerintah sangat terbatas karena erosi globalisasi maka akan ada banyak konsekuensi sosial. Namun kemudian, hyperglobalizers menambahkan bahwa, dalam disiplin yang kompetitif, model sosio-demokratik dari pembangunan dan kebijakan kemakmuran negara menjadi lemah dan kemudian gagal. Mengapa? Karena pemerintah akan cenderung menutup diri dari lingkungan yang semakin terintegrasi karena apa yang mereka sebut sebagai ‘the myth of sovereignty’ justru sikap itulah yang tidak bijak dalam menanggulangi konsekuensi sosial globalisasi dan memakmurkan rakyat. Proteksi itulah yang mereka sebut sebagai ‘traditional welfare options’ yang negara lama-kelamaan tidak akan lagi mampu untuk membiayainya. Dalam titik yang lebih ekstrim, hyperglobalizers melihat negara sebagai sesuatu yang merugikan yang nilai ekonomisnya semakin berkurang. Semakin maju, maka ekonomi nasional akan menyatu dan membentuk kawasan ekonomi (regionalisasi).
Para skeptics seperti Hirst dan Thompson, sama sekali menantang ilustrasi diatas. Mereka melihat bahwa interdependensi ekonomi sebagai suatu hal ‘historically unprecedented’. Mereka sama sekali menantang bahwa peran negara jatuh dan tidak signifikan dalam globalisasi. Justru, proses penyatuan harga, internasionalisasi, perdagangan, transaksi moneter dan sebagainya adalah hanya hasil dari interaksi diantara ekonomi nasional yang kuat. Negara dilihat sebagai arsitektur utama dalam segala hal yang terjadi di dunia ini, seperti E.H. Carr menyebutnya “international order and the so-called international solidarity will always be slogans of those who feel strong enough to impose them on others” (Carr, 1981, p.87) sehingga globalisasi pun tidak perlu dimaknai secara berlebihan, karena globalisasi tidak pernah ada. Ia hanyalah mitos yang lebih tepat dilihat sebagai imperialisme Barat dalam bentuk yang baru atau ‘US-initiated multilateral economic order’ (Gilpin, 1987). Hyperglobalist dilihat sebagai kumpulan orang-rang naif yang tidak bisa menangkap dengan baik kekuatan sesungguhnya dari ekonomi nasional untuk meregulasi aktivitas ekonomi internasional. Disiplin neoliberal disini bukan menunjukkan munculnya entitas baru yang meleburkan negara atau malah berdiri lebih tinggi diatas negara yang ditaksir bernama ‘global marketplace’ namun itu semua adalah hasil kesepakatan dari aktor-aktor terkuat. Seperti perkataan legendaris dari Churchill, “sejarah ditulis oleh pemenang”.
Skeptics melihat bahwa, inilah bentuk asli dari yang disebut kemenangan kapitalisme. Kemenangan yang tidak merata, apalagi bagi negara yang tidak kuat. Skema ekonomi internasional saat ini sangat jauh dari apa yang disebut sebagai pasar global yang terintegrasi. Proses internasionalisasi itu lebih tepat disebut sebagai proses regionalisasi, terlihat dari bagaimana aktivitas global didominasi oleh tiga kawasan finansial dan perdagangan utama, yaitu Eropa, Amerika Utara dan Asia-Pasifik (Ruigrok and Tulder, 1995; Hirst and Thompson 1996). Fenomena imperialisme Barat dalam globalisasi itu utamanya dilihat oleh kaum skeptis pada pola kompetisi menang-kalah yang termanifestasi dalam North-South division dan tak pelak proses regionalisasi tadi. Bahkan, apabila di bandingkan dengan dunia pada zaman klasik nilai tukar emas, dunia masa kini kurang terintegrasi. (Hirst and Thompson 1996). Secara konseptual dan empirikal, globalisasi dan regionalisasi adalah hal yang bertentangan satu sama lain. Ekonomi dewasa ini jauh dari karakter ‘global’ bahkan tidak mendekati definisi hyperglobalist. Dibandingkan dengan zaman kerajaan dahulu, ekonomi internasional semakin tidak mengglobal dalam faktor genggaman geografis disebabkan oleh faset-faset regional. (Gordon, 1988; Weiss, 1997).
Paparan diatas memberi bantuan bagi kita untuk melihat sistem moneter internasional dari sisi ‘eagle eye’. Sistem moneter internasional berkembang sedemikian rupa hingga saat ini dengan banyak modifikasi yang mengikuti tren disiplin ekonomi neoliberal seperti yang disebutkan oleh hyperglobalist. Namun, hal tersebut membuat ekonomi global sudah kurang terintegrasi seperti dengan munculnya fenomena regionalisasi. Skeptics melihat bahwa sistem moneter internasional dengan perangkat institusi Barat yang disebut ‘Unholy Trinity’ menjadi suatu bentuk dominasi dan ‘skenario’ untuk mengatur aktivitas ekonomi untuk keuntungan mereka. Seperti yang disebutkan Carr tadi bahwa fakta bahwa hingga saat ini sistem tersebut masih berjalan tidak peduli betapa flawed cara kerjanya, menjadi bukti bahwa kekuatan yang berada di belakangnya yaitu Amerika dan Eropa menjadi ‘yang kuat’ yang mampu mempengaruhi dan menahkodai sistem. Terlepas dari debat optimis dan pesimis yang berusaha dihadirkan penulis di awal, sistem moneter internasional akan terus bertahan karena berhubungan erat dengan ketahanan umat manusia, seperti halnya hubungan ekonomi dengan aktivitas sehari-hari seorang individu. Tidak peduli bentuk negara sudah berubah menjadi negara kawasan seperti ramalan Ohmae, atau tetap relevan seperti pandangan skeptics.
Apa sebenarnya yang disebut dengan sistem? Dalam definisi teknologi, sistem adalah kesatuan dari bagian-bagian yang terpisah dan memiliki tugasnya masing-masing untuk mencapai tujuan bersama. Seperti dalam micro chip yang tertanam di masing-masing peranta yang kita miliki adalah berbagai komponen elektronik yang digabungkan dalam perangkat semikonduktor. Semakin kompleks fungsi chip maka semakin kompleks pula komponen yang menyusunnnya. Dalam Hubungan Internasional, sistem dapat kita lihat sebagai struktur dan proses (Nye, 1997, p.31). Struktur dalam sistem merujuk pada distribusi power sementara proses melihat kepada pola dan tipe interaksi antar unit-unit dalam sistem. Dalam kacamata ekonomi, stuktur pasar adalah pembeli dan penjual. Pasar yang monopolistis memiliki satu penjual, duopoli dua penjual, oligopoly memiliki beberapa penjual, dan dalam pasar persaingan sempurna kemampuan menjual terdiferensiasi. Begitu pula dalam sistem politik, unipolar sebagai struktur dengan satu kekuatan dominan, bipolar dua kekuatan dominan, dan multipolar dengan banyak kekuatan dominan. Proses dalam sistem dapat dianalogikan dalam permainan kartu atau Pokemon. Struktur dari permainan adalah ada berapa pemain, berapa poke ball yang mereka punyai, dan bagaimana kekuatan agregat dan masing-masing poke ball tersebut; sementara proses melihat apakah pemain-pemain ini seorang yang level nya sudah tinggi, berapa kali mereka pernah kalah, apakah mereka pernah curang atau selalu jujur, dan sebagainya.
Mengetahui struktur membuat kita dapat memprediksi pola interaksi yang dapat terjadi dan upaya apa yang dapat dilakukan. Hal itu dapat menjelaskan mengapa Team Rocket di Pokemon memilih untuk bergabung dan selalu berusaha mengalahkan Pikachu dan kawan-kawan. Oleh karena itu pula muncullah banyak konsepsi seperti aliansi, pakta perdagangan, dan diantaranya adalah currency swap yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini. Dalam sistem moneter internasional dewasa ini secara sederhana kita dapat melihat preponderance Amerika Serikat bukan hanya dalam hal transaksional namun juga dominasi dalam institusi seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional. Hal tersebut memberi petunjuk awal mengenai struktur sistem moneter yang kita diami saat ini. Ada banyak hal yang dapat membuat suatu unit menjadi pemain utama. Seperti dalam Pokemon, bisa saja karena ia sangat terkenal karena kecakapannya mengatur poke ball, atau kekuatan mengontrol poke ball, atau kekuatan strategi dan ketepatan penempatan poke ball sehingga lawan akan cepat kalah. Dalam sistem moneter, hal itu bisa disebut berapa cadangan devisa, berapa sovereign wealth fund yang dipunyai, ranking berapa dalam transaksi perdagangan dunia dan sebagainya. Namun, fokus yang ingin dilihat tulisan ini adalah faktor global reserve currency (GRC) yang dimainkan oleh dua pemain utama yang berebut posisi Pokemon Master, yaitu Dollar dan Yuan.
Apa yang dibutuhkan sistem yang berlomba-lomba disediakan oleh Dollar dan Yuan? Seperti yang dikatakan Keynes, yaitu stabilitas. Tak pelak, stabilitas menjadi hal yang semakin penting terlebih ketika situasi dunia makin dinamis dewasa ini. Telah banyak teori dan konsepsi yang diciptakan untuk berkontribusi dalam memecahkan teka-teki stabilitas. Realisme, salah satunya, memberi fokus erat pada struktur internasional dan bagaimana keadaan yang stabil dapat dijelaskan dan diciptakan serta keadaan yang tidak stabil dapat dihindari. Oleh karena itu, realisme melihat bahwa stabilitas dapat dijelaskan dalam keadaan kausal. Mereka mengusung ide polaritas dengan hadirnya hegemon sebagai kekuatan yang dominan yang dapat menjaga kestabilan sistem. Hubungan kausal tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut, kestabilan sistem akan tercipta apabila ada hegemon, atau hegemon menjadi sebab munculnya sistem yang stabil. Tulisan ini setuju bahwa hegemon dibutuhkan dalam tatanan moneter internasional untuk menjaganya agar tetap stabil.
Ada banyak perdebatan dalam diskursus Cina sebagai hegemon yang tentunya tidak akan cukup untuk ditulis dalam ruang yang singkat ini. Namun, seperti yang ditulis Fareed Zakaria bahwa tentunya dunia membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekedar kekuatan besar tapi juga arah yang memastikan masa depan yang lebih berkelanjutan. Jika ada bangsa yang harus mereformasi arah kebijakannya dewasa ini, itu adalah Cina. Zakaria mengkritik Cina dengan aliansi BRICS yang seakan-akan ingin membuat ‘order’ yang baru dan menentang order Barat, dalam hal ini Amerika Serikat. Dengan kata lain, China wants reform for the sake of being a hipster. Penulis melihat hal ini sebagai sesuatu yang inheren melihat mayoritas dari pemimpin kelompok BRICS adalah para iconoclastic radicalism atau mempunyai kecenderungan untuk melawan sistem yang sudah ada. Tulisan Zakaria tersebut seakan-akan memberikan kesan tersirat bahwa pengalaman Dollar dan kepemimpinan Amerika Serikat selama ini memang akan diuji dengan reformasi, namun bukan berarti Cina dapat membuat The Eastern Order dan mengacaukan global governance. Pendekatan Cina yang pragmatis dan cenderung melihat dalam jangka pendek itulah yang memberikan argumen dasar mengapa dunia ini masih belum membutuhkan Yuan sebagai GRC.
Studi kasus: the Chinese Yuan
Sistem moneter internasional saat ini adalah residu dari kemenangan rezim Bretton Woods yang menandai supremasi Amerika Serikat sebagai hegemon dalam sistem internasional. Menurut Tetsuji Murase dalam (Murase, 2002), yang membuat Yuan menjadi mata uang yang unik adalah kebijakan tukarnya. Seiring dengan reformasi kebijakan pintu terbuka Deng Xiaoping hingga saat ini Yuan telah mengalami berbagai transformasi dalam kebijakan nilai tukarnya. Detail transformasi tersebut tidak menjadi fokus dalam tulisan ini, melainkan kemungkinan konvertabilitas dari Yuan itu sendiri. Menurut Chen Yuan, Mantan Vice-President dari People’s Bank of China dalam (Chen, 1994) target jangka panjang dari sistem kontrol nilai tukar luar negeri Cina ialah merealisasikan konvertabilitas mata uang tersebut. Logika sederhana, pada sistem yang terintegrasi, saling ketergantungan dan dinamis membutuhkan mata uang yang juga dinamis dan dapat memiliki relasi terhadap standar internasional, salah satu caranya ialah dengan konvertabilitas tersebut. Maka, apabila rencana ini terbentuk, Yuan harus menanggalkan regulasi nilai tukar luar negeri kepada neraca sedang berjalan dan neraca modal (current and capital accounts). Hal itu juga seyogyanya dibarengi dengan penghapusan limitansi dalam pergerakan modal internasional dan aktivitas pertukaran asing.
Ada dua tahapan yang harus dipenuhi oleh pemerintah Cina untuk memastikan konvertabilitas mata uangnya (Murase, 2002, p.113). Tahap pertama ialah dalam bentuk realisasi parsial dari konvertabilitas Yuan pada neraca sedang berjalan terlebih dahulu, dan tahap kedua ialah dalam bentuk proses yang sedikit demi sedikit mengurangi dan kemudian menghilangkan kontrol terhadap neraca modal sehingga dapat menciptakan kondisi konvertabilitas yang final. Sampai tahun 2009, dua tahap itu belum terbentuk dan Yuan masih belum konvertibel. Terlepas dari realisasi konvertabilitas, ambisi Yuan menjadi GRC telah menjadi tajuk utama di beberapa media, termasuk media di Indonesia. Seperti dilansir VIVAnews, Dana Moneter Internasional (IMF) menilai bahwa mata uang Cina, Yuan, di masa depan bisa menjadi kurs utama (GRC), seperti yang selama ini melekat pada dolar AS. Namun, China perlu memperbaiki sistem nilai tukar yang lebih kuat dan lebih fleksibel. Menurut kantor berita Reuters, komentar Lagarde di Beijing merupakan pernyataan yang paling gamblang dari pejabat tinggi IMF mengenai prospek mata uang yuan. Ini juga diperkuat oleh pertumbuhan ekonomi China yang meningkat pesat dalam tiga dekade terakhir. Untuk menjadi mata uang utama dalam perdagangan dunia, Lagarde mengutarakan ada beberapa hal yang harus dibenahi pemerintah China. Ini menyangkut kebijakan domestik di negara komunis itu.
“Apa yang dibutuhkan adalah suatu peta jalan yang menjamin adanya sistem kurs yang lebih fleksibel, serta menciptakan manajemen likuiditas dan moneter yang lebih efektif, dengan supervisi dan regulasi yang berkualitas lebih baik dengan didukung pasar keuangan yang lebih maju dan bunga pinjaman serta deposit yang fleksibel dan pada akhirnya membuka arus modal,” kata Lagarde dalam pidato di hadapan para pengambil kebijakan China dan tokoh-tokoh bisnis global. “Bila semua itu terjadi, tidak ada alasan bagi renminbi [yuan] untuk tidak mencapai status sebagai kurs utama, sejalan dengan status ekonomi China,” lanjut Lagarde.
Cina selama ini sangat ketat mengendalikan arus modal dan nilai tukar yuan. Padahal, Beijing berambisi meningkatkan penggunaan yuan di tingkat internasional melalui transaksi perdagangan lintas batas. China pun dalam beberapa tahun terakhir menjalankan sejumlah reformasi untuk mendukung ambisi itu. Lagarde juga menilai bahwa China kian berpengaruh dalam menstabilkan ekonomi dan keuangan dunia. Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, China di akhir 2008 menggelontorkan US$635 miliar untuk mendanai paket stimulus ekonominya dalam menghadapi krisis keuangan global. China pun mulai menunjukkan kepemimpinan di sejumlah forum strategis, seperti IMF dan G20. Tentu, ada banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan Cina. Belum selesai, Cina mengumumkan banyak sekali pengaturan swap baik bilateral maupun multilateral, mari kita intip bersama.
Studi kasus: Currency swap
Cina memainkan peran yang signifikan dalam diskusi atas solusi untuk masalah ekonomi saat ini. Sebagian besar pembicaraan ini difokuskan pada sektor moneter dan finansial dan kebanyakan argumen untuk pelepasan dari dependensi terhadap Dollar. Sampai sekarang, satu contoh kemampuan Cina untuk berkontribusi pada reformasi moneter global adalah menetapkan dan memiliki kontrol sendiri terhadap Yuan. Terutama fakta bahwa yuan tidak konvertibel. Namun, sekarang ada tanda-tanda tentatif bahwa sudah mulai berubah. Tercatat perkembangan terbaru Maret kemarin, setidaknya Cina telah mengumumkan beberapa currency swap dengan mitra dagang besarnya, yaitu Australia, Korea Selatan, Argentina, Indonesia, Selandia Baru, Malaysia, Hong Kong, Jepang, Thailand, Turki dan Singapura (Borthwick, 2012).
Mekanisme swap ini mengizinkan bank-bank sentral untuk menjual Yuan untuk importir lokal di negara-negara yang ingin membeli barang-barang dari Cina. Hal ini sangat berguna untuk importir untuk mendapatkan pembiayaan perdagangan sebagai akibat dari krisis keuangan. Dengan demikian, hal itu sesuai dengan keinginan Cina untuk berpartisipasi dalam G-20, upaya untuk mendukung pembiayaan perdagangan. Cina telah lama ingin mata uangnya untuk memainkan peran yang lebih penting dalam sistem moneter internasinoal. Pengaturan swap ini meletakkan konteks tujuan kebijakan yang lebih luas. Tujuan kebijakan yang lebih luas juga memiliki fungsi lebih praktis dalam mengurangi risiko mata uang dan biaya transaksi bagi eksportir Cina. Kenaikan relatif nilai Yuan terhadap Dollar pada awal 2008 merupakan alasan mengapa beberapa eksportir Cina bangkrut. Tentu swap tidak boleh disalahartikan sebagai konvertabilitas Yuan penuh. Walaupun begitu, Cina yang tergabung di BRICS dan G-20 terus berupaya untuk menyusun langkah penting ke arah itu. Bahkan lebih baik, pihak berwenang Cina tampaknya telah mempercepat jadwal reformasi dalam beberapa bulan terakhir yang menunjukkan bahwa prospek konvertabilitas parsial, khususnya antara Cina dan mitra dagang utama regional.
Indonesia, sejak tahun 2010 telah mendesak China untuk merealisasikan kesepakatan swap mata uang mereka dalam rangka mendukung perdagangan kedua negara dan kerjasama investasi. Kesepakatan ini penting untuk mendukung upaya-upaya untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi kedua negara. Seperti dilansir The Global Review, Indonesia dan China menandatangani perjanjian swap mata uang bilateral melalui Bank Indonesia dan People’s Bank of China pada tanggal 23 Maret 2009. Nilainya setara dengan USD 15 miliar dan berlaku selama jangka tiga tahun dengan kemungkinan perpanjangan waktu bagi kedua negara. Manfaat dari perjanjian ini adalah bahwa kedua negara tidak lagi memerlukan mata uang AS dalam melaksanakan ekspor dan impor. Sejauh ini transaksi dilakukan dalam rupiah yang dikonversi ke dalam mata uang AS dan kemudian ke Yuan. Jika kerjasama ini terealisasi, kami dapat melakukan transaksi tanpa menggunakan mata uang AS. Pemerintah juga meminta Pemerintah China membuka kesempatan bagi Bank Mandiri untuk membuka cabang di China sebagaimana Pemerintah Indonesia telah memberikan izin pembukaan kantor cabang untuk dua bank dari China, yaitu Bank of China dan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).
Pemerintah China sendiri mengucurkan USD 250 juta untuk perdagangan dan investasi melalui sebuah perjanjian pembiayaan antara Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (Indonesia Eximbank) dengan Industrial dan Commercial Bank of China (ICBC). Jumlah USD 250 juta disepakati dari angka yang sebelumnya disebutkan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yaitu USD 350 juta. Bidang kerjasama antara kedua belah pihak meliputi perdagangan, investasi dan keuangan antara Indonesia dan China. Bentuk kerjasama berupa perdagangan produk mekanis, elektronik, produk teknologi, energi dan bahan baku, juga dalam bentuk proyek infrastruktur dan energi di kedua negara dan dikembangkan oleh perusahaan Indonesia atau China. Selain itu perjanjian pembiayaan juga meliputi proyek konstruksi yang dilakukan oleh perusahaan Indonesia atau China dan pinjaman dari ICBC ke Indonesia Eximbank untuk berbagai proyek terkait dengan kedua lembaga. Alokasi pendanaan juga disediakan untuk mendukung pembeli asal China yang ingin membeli barang dari eksportir Indonesia, atau kerjasama pada proyek antara perusahaan Indonesia dan China.
Namun, hingga kini, operasionalisasi perjanjian tersebut belum juga dapat dijalankan, bahkan setelah dua tahun ditandatangani. Padahal, jika perjanjian tersebut cepat dilaksanakan, transaksi keuangan dari proses ekspor dan impor kedua negara bukan hanya cepat dilaksanakan tetapi juga lebih murah dan hemat. Hal tersebut dilaporkan oleh KOMPAS dimana Wapres Boediono saat memberikan keterangan kepada pers, seusai bertemu dengan Wen Jiabao di Beijing, China, menyampaikan bahwa, “Payung hukumnya sudah ada, akan tetapi ada hal-hal yang belum dilaksanakan. Oleh sebab itu, kita minta dipercepat proses operasionalisasinya,” Hal ini juga terjadi pada pengaturan swap dengan Brazil. Jadi apa sebenarnya yang Cina inginkan dari pengaturan ini? Kita perlu cermat dalam melihat arah tujuan Cina menahkodai Yuan. Telah kita lihat bersama bahwa tujuan Cina jelas, yaitu menjadikan Yuan sebagai Global Reserve Currency. Langkah-langkah reformis juga telah ditetapkan oleh pemerintahan Cina.
Lalu, apa indikator yang ideal bagi sebuah mata uang untuk menjadi GRC? Seperti dikutip dari The Economist featured Barry Eichengreen, bagi mata uang nasional untuk menjadi menarik sebagai bentuk cadangan dibutuhkan empat hal: skala, likuiditas, stabilitas dan keamanan. Skala berarti bahwa sebagian besar transaksi internasional dilakukan dengan menggunakan mata uang itu, rendering itu berguna dalam intervensi pasar. Ini juga berarti bahwa ada volume yang signifikan pada efek dalam mata untuk bank sentral dan pemerintah. Skala yang besar artinya mata uang tersebut digunakan di banyak transaksi, dan atau banyak diterima sebagai hasil transaksi. Sementara perdagangan dengan Yuan meningkat dengan cepat, hampir 7% dari perdagangan China diselesaikan menggunakan mata uang China sendiri, dan fraksi untuk negara-negara lainnya adalah tentu saja lebih rendah. Adapun pasokan sekuritas, obligasi kapitalisasi pasar China hanya sedikit lebih dari $ 3 triliun, hampir sepersepuluh dari Amerika Serikat.
Likuiditas, sementara itu, melihat seberapa ‘cair’ mata uang tersebut. Volume perdagangan sebagai bagian dari obligasi adalah hampir 75%, hanya 1 per 100 tingkat turnover di Amerika. Seperti di Jepang, pemerintah dan obligasi korporasi di Cina cenderung dimiliki hingga jatuh tempo kredit oleh bank dan koperasi. Ini mengungkapkan pola yang paralel. Seperempat abad yang lalu, pada akhir tahun 1980, Jepang memulai kampanye menginternasionalkan mata uangnya, dan banyak yang bertanya apakah Yen mungkin menyalip Dollar sebagai GRC. Kita semua tahu bagaimana nyatanya.
Adapun stabilitas, hanya waktu yang dapat memberi jawaban. Cina harus menekankan pada proses yang gradual dan tidak memaksakan pelepasan kontrol secara semerta-merta terhadap aliran modal masuk dan keluar. Ada banyak alasan untuk berpikir bahwa kebijakan Cina akan untuk melepas kontrol sedikit demi sedikit dalam dekade berikutnya, tapi melepas sedikit demi sedikit tidak sama dengan menghilangkan mereka. Bahkan kebijakan liberalisasi terbatas terhadap arus modal keuangan akan membutuhkan China untuk menempatkan bank pada pijakan yang murni komersial-yang berarti meninggalkan pinjaman kebijakan. Cina harus memodernisasi sistem-sistem pengawasan dan pengaturan untuk mencegah booming pinjaman inflow dan outflow. Ini akan memungkinkan fleksibilitas nilai tukar yang lebih besar sebagai shock absorber.
Dengan kata lain, liberalisasi neraca modal yang signifikan, seperti yang diperlukan untuk Yuan untuk menjadi mata uang cadangan konsekuensial, mensyaratkan perubahan mendasar dalam model pembangunan China. Perubahan akan datang, tetapi perubahan besar seperti dalam periode pendek jelas tidak konsisten dengan pendekatan tradisional pada kebijakan Cina yaitu “feeling the stones at the bottom of the stream”. Akhirnya, bank sentral dan pemerintah menghargai keamanan investasi mereka. Mereka menginginkan rasa aman ketika mengetahui bahwa cadangan mereka akan tersedia dalam keadaan darurat, termasuk keadaan darurat politik. Mereka harus yakin bahwa bila terjadi perselisihan dengan atau salah satu sekutunya, akses cadangan mereka tidak akan dikompromikan.
Sejauh ini, Cina telah menunjukkan pengendalian diri dalam menggunakan senjata keuangan dalam perselisihan internasional, baik dalam perselisihan perdagangan dan nilai tukar atau hal-hal lainnya. Tapi Cina memiliki sengketa lama teritorial dengan India. Dalam meluncurkan kapal induk pertama dan memperluas angkatan laut, itu mengubah keseimbangan kekuasaan di Laut Cina Selatan dan menantang Amerika. Ini akan memakan waktu lebih dari satu dekade untuk Yuan untuk menyalip Dollar sebagai cadangan mata uang internasional utama dan bahkan di bawah skenario Yuan yang paling menguntungkan. Untuk meringkas diskusi kita, ada satu pernyataan menarik dari Financial Times baru-baru ini, “…see Beijing’s currency swap deals as pieces in a jigsaw designed to promote wider international use of the renminbi, starting with making it more acceptable for trade and aiming at establishing it as a reserve currency in Asia, something that would also enhance China’s political clout.”
Pendekatan pragmatis dan jangka pendek yang diambil Cina menyebabkan bukan hanya proses liberalisasi kontrol neraca sedang berjalan dan neraca model di dalam negeri yang tersendat-sendat, tetapi juga realisasi pengaturan swap yang telah dilakukan Cina dengan banyak mitra dagangnya. Motivasi Cina dalam pengaturan itu sangat jelas, yaitu mempopulerkan Yuan mulai dari kawasan Asia Timur lalu bergerak ke pihak-pihak yang dekat dengan Beijing dan kemudian menetapkan Yuan sebagai global reserve currency. Telah kita lihat bahwa, standar reserve currency dunia belum dapat dipenuhi Cina setidaknya untuk beberapa tahun kedepan. Namun, pengaturan swap ini juga memiliki fungsi pragmatis yaitu menaikkan volume transaksional Yuan dalam perdagangan dan transaksi finansial lainnya. Karena sifatnya yang tidak (belum) konvertibel, maka negara-negara yang menandatangani perjanjian swap dengan Cina harus membeli Yuan yang artinya memberi peluang yang semakin besar bagi barang-barang Made in China. Yuan harus mereformasi diri untuk dapat diperlukan oleh dunia, karena untuk saat ini sampai beberapa tahun ke depan, dunia belum membutuhkan Yuan.
Daftar Pustaka
Sumber buku
Carr, E.H. Twenty Years’ Crisis, 1919-1939: An Introduction to the Study of International Relations. Harper Perennial Publishers
Chen Y. (ed). 1994. Chinese Financial System Reform, Chogoku Zaisei Keizai Shuppansha
Gordon, David. 1988. The Global Economy: New Edifice or Crumbling Foundations? In New
Gilpin, Robert. 1987. The political econmy of international relations. Princeton University Press: 1987 Left Review, 168, March/April.
Gilpin, Robert. 2001. Global Political Economy: Understanding the International Economic Order. Princeton University Press
Hirst Paul & Thompson Grahame 1996. Globalization in Question. The International economy and the Possibilities of Governance. London: Polity Press.
Murase, Tetsuji. A Zone of Asian Monetary Stability. 2002. Australian National University: Asia Pacific Press
Nye, Joseph. 1997. Understanding International Conflicts.New York: Longman
Ohmae, Kenichi. The End of Nation-State and the Rise of Regional Economies. New York: Simon and Schuster Inc., 1995.
Reich, Robert. 1991. The Work of Nations, Simon and Schuster, London.
Ruigrok Winfried and Rob van Tulder. 1995. The Logic of International Restructuring. London: Routledge.
Strange, Susan. The Retreat of State: The Diffusion of Power in the World Economy. Cambridge University press: 1996.
Weiss, Linda. 1997. Globalization and the Myth of the Powerless State. New Left Review. September/October.
Sumber internet
Brothwick, Douglas, “Reserve Currency: China Sun Rises, U.S. Sun Sets”, dalam http://seekingalpha.com/article/475381-reserve-currency-china-sun-rises-u-s-sun-sets
“IMF Yakin Yuan Bisa jadi Mata Uang Dunia”, diakses dari: http://dunia.vivanews.com/news/read/297402imf-yakin-yuan-bisa-jadi-mata-uang-utama pada 10 April 2012, 21:13 WIB
“China Yuan could be reserve currency with reform: IMF” , diakses dari: http://www.reuters.com/article/2012/03/18/us-china-currency-imf-idUSBRE82H02L20120318 pada 10 April 2012, 21:45 WIB
“Pemerintah Desak China Mewujudkan Perjanjian Swap Mata Uang”, diakses dari: http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3304&type= pada 10 April 2012, 22:00 WIB
RI-China Soroti “Bilateral Swap”, diakses dari: http://internasional.kompas.com/read/2010/10/20/22142948/RI-China.Soroti.Bilateral.Swap, pada 22:12 WIB
The Economist Debate: The yuan
This house believes that the yuan will be the world’s main reserve currency within ten years, diakses dari: http://www.economist.com/debate/days/view/756, pada 23:10 WIB
Disarikan dari: http://www.ft.com/cms/s/0/eba6405c-1d7e-11de-9eb3-00144feabdc0.html/